Berbohong Demi Kebaikan (White Lie)

by Thursday, July 28, 2011 0 comments

Sebagian orang berpendapat bahwa tidak semua kebohongan itu buruk. Ada yang berbohong demi kebaikan. White lie, that’s it’s said.

Saat seseorang berbohong, tidak mutlak berarti ia ingin menyakiti. Ada kalanya seseorang berbohong demi menjaga perasaan orang lain, demi membahagiakan orang lain, demi menghindarkan orang lain dari kekecewaan, demi memenuhi keinginan-keinginan orang lain, meskipun itu menjadi beban bagi dirinya sendiri. Bagaimanapun, seseorang yang berbohong tidak dapat merasakan ketenangan seutuhnya karena ia tahu bahwa yang dilakukannya tidak benar, berbohong itu tidak baik. Akan tetapi, atas pertimbangan kompleksitas situasi yang dihadapi, ia memutuskan untuk memprioritaskan kebahagiaan orang lain di atas dirinya sendiri. Ia pun akhirnya berbohong.

Di satu sisi, orang yang berhasil membahagiakan orang lain dengan kebohongan berarti melandaskan kebahagiaan orang tersebut pada sesuatu yang tidak stabil –kebohongan yang sewaktu-waktu bisa terungkap. Dan saat orang tersebut mengetahui kebenarannya, seringkali muncul pernyataan, “How could you do it to me?”, “Why didn’t you tell me?”, “Did you think I’m still a baby?” 
Dalam keluarga, white lie itu kerap dilakukan. Orang tua yang menunjukkan sikap “I’m fine” pada anaknya saat ia membanting tulang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya hingga kerap berpuasa karena tidak ada makanan untuk dimakan, itu white lie. Anak yang tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya yang tengah dilanda krisis finansial dan permasalahan dengan atasan di kantor sehingga ia tidak memberitahu bahwa ia tengah mengalami krisis kepercayaan diri karena nilai-nilai sekolah yang tiba-tiba anjlok, itu white lie. Ada juga ibu yang selalu berkata, “they’re fine” pada ayah agar tidak membuatnya kecewa atas keadaan anak-anaknya yang tidak mampu memenuhi harapan sang ayah. Ada juga anak yang curhat pada ibu tentang masalah-masalah rumah tangga barunya yang terancam perceraian, tetapi berkata “we’re fine” pada sang ayah. Semua itu mungkin bisa memenuhi kebahagiaan orang lain, tetapi memikul beban kebohongan itu sendiri tidak mudah.

Berbohong meski untuk kebaikan, saat itu terungkap, dapat membuat pihak lain merasa bersalah. Apalagi saat pihak lain tersebut merasa tidak mampu membayar kebahagiaan semu tersebut dengan maksimal.

Sebaik apapun maksud seseorang dengan kebohongannya, serapi apapun ia mengemasnya, tetap saja jujur menjadi jalan yang paling mendamaikan.




Unknown

Clinical Pharmacist | Entrepreneur | Blogger | Daughter | Wife | Life-Long Learner

"Seperti pelangi." Demikian saya memandang hidup. Dengan semua keterbatasan sudut pandang yang saya miliki, mencoba menyerap hikmah yang Tuhan sampaikan melalui semua kuasa-Nya. Itulah yang kemudian saya tuliskan di halaman-halaman ini sebagai pengingat bagi diri sendiri, sekaligus sebagai bagian dari bahan pembelajaran bagi siapapun yang mampu mengambil hikmah di dalamnya. Please kindly read and absorb.

0 comments: